Senin, 26 September 2016

Masalah Sosial Tentang Pengamen dan Pengemis di Bawah Umur




Apasih yang dimaksud dengan Masalah Sosial? 

Masalah Sosial terdiri dari dua kata, yaitu kata ‘’masalah’’ dan kata ‘’sosial’’. Kata masalah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan), soal, persoalan. Sedangkan dalam KBBI kata social diartikan sebagai suatu hal yang berkenaan dengan masyarakat. Sehingga dapat disimpulkan, Masalah Social adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan pada masyarakat, yang menimbulkan ketidakselarasan dalam kehidupan suatu kelompok social atau kelompok masyarakat.

Dalam artikel kali ini, saya akan membahas tentang Masalah Sosial yang ada di masyarakat. Tentu saja apa yang akan saya bahas ini sangat-sangat lah familiar kita temukan. Apalagi di ibukota besar tempat sekarang kita tinggal.
Teman-teman pembaca sekalian, saya ingin mengajak anda lebih menelaah jauh. Pada saat teman-teman ingin bepergian jalan-jalan, ke rumah teman, ke kampus, atau ke pasar misalnya. Pernah kah kalian melihat pengamen atau pun pengemis ? tentu sering bukan. Bahkan kerap kali kita bertemu mereka yang mengamen ataupun mengemis masih dibawah umur. Apakah teman-teman berfikir itu merupakan masalah sosal? Jika YA! Selamat, kita sama.

Indonesia merupakan Negara maju. Salah satu fungsi Negara bukankah untuk menyejahterakan rakyatnya? Dengan banyak nya pengemis dijalanan apakah sudah dikategorikan sebagai rakyat yang sejahtera? Tentu tidak.
Sudah bukan pemandangan aneh, saat kita naik bus, angkot, kendaraan umum, atau disebuah rumah makan. Tiba-tiba nyelonong seseorang atau segerombolan anak-anak yang membawa peralatan music seadanya, bernyanyi dengan suara keras, lalu berkeliling sambil membawa gelas aqua kosong atau pun bungkus permen, lalu meminta-minta. Dan jika sudah mendapat uang sekedarnya  mereka langsung pergi berganti tempat.

Kerapkali saya prihatin kepada adik-adik yang masih kecil. Diusia mereka yang seharusnya lagi asyik-asyiknya bermain dan belajar dibangku sekolah. Tapi dengan mirisnya mereka harus turun kejalanan ditengah teriknya sinar matahari hanya untuk mendapatkan uang. Masalah ini seharusnya harus dipandang sebagai fenomena serius.
Berbagai factor yang menjadikan anak-anak sebagai pengamen atau pengemis jalanan banyak terjadi. Entah preman-preman yang mempekerjapaksakan, orangtua yang memaksa anaknya untuk menambah hasil perekonomian mereka, atau kehendak anak itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan lingkungan tumbuh kembang mereka juga memiliki pengaruh. Jika dari sekarang mereka terbiasa mendapat uang dengan mudahnya di jalan, maka kelak mereka akan terus-terusan menjadi anak jalanan hingga mereka besar.

Anak jalanan, pengemis, pengamen, disamping menimbulkan masalah social, seperti keamanan, ketertiban lalulintas, dan kenyamanan, juga memunculkan tindakan criminal terhadap anak jalanan itu sendiri. Mereka menjadi rentan terhadap kekerasan dan pelecehan orang dewasa, penggarukan petugas ketertiban kota, dan konsumsi minuman serta zat adiktif atau narkoba.
Bagaimana cara kita menghentikan para anak jalanan tersebut? Ada salah satu wacana pemerintah, yaitu dengan tidak memberi atau mengasihi mereka. Mengapa? Karena jika mereka tidak mendapat sepeserpun uang dari hasil mengamen atau mengemis, maka lambat laun mungkin mereka akan berhenti dari pekerjaan tersebut. Namun sampai saat ini, masih saja orang yang masih memberi mereka uang mungkin dengan alasan kasihan dan prihatin. 

Pada dasar nya Masalah Sosial adalah tanggung jawab semua pihak. Dinas Sosial sudah bertanggungjawab dengan membuat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), lembaga itu dibuat bertujuan untuk menampung para pengemis yang ingin memiliki pekerjaaan. Sehingga para pengemis itu diberi bekal keterampilan serta dilatih untuk dapat menciptakan peluang pekerjaan sendiri. Dan untuk anak dibawah umur, mereka sudah membuat rumah singgah. Rumah singgah bertujuan untuk menampung semua anak jalanan, disana mereka diberi bekal ilmu, ataupun sekedar perlindungan. Untuk mengurangi anak jalanan, selain peran pemerintah, tentu saja peran serta orang tua juga sangat lah penting dalam hal ini. Seperti tidak lagi memaksa anak-anaknya untuk bekerja membantu penghasilan orangtua. Dan mendorong mereka untuk menuntut ilmu dengan program pemerintah Sekolah Gratis.
Kebutuhan akan pendidikan tidak hanya bagi mereka yang mampu. Pendidikan menjadi hak setiap anak bangsa yang wajib dipenuhi oleh pemerintah. Bahkan sekarang ada Program Indonesia Pintar (PIP), hingga adanya program itu diharapkan semakin banyak anak usia sekolah yang mengenyam bangku sekolah untuk mendapat pendidikan. Anak bangsa harus mendapat ilmu yang layak. Dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan yang banyak. 

Siapa lagi yang akan memajukan bangsa jika bukan kita para generasi muda?

2 komentar:

Andre Saputra mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Alvian Rasyid mengatakan...

nice post

Posting Komentar